Labirin Subjek

Labirin Subjek mukit hendrayatno

Ketika kesidahanku merayap aku teringkat Engkau dan engkau
Diiringi pendaran nada shalawat Al-Burjah
Memenuhi ruang dan langit-langit hatiku
Aku menahan resah yang hampir membuncah

Ya... Ahmade..........
Sepertinya aku merasakan kesedihanmu
Dilatar belakangi umatmu yang jahil dan miskin
Terseok-seok dalam materialisme semu
Yang meletakkan kesadaran dibawah ketidaksadaran


Sesungguhnya mereka tidak tahu,....
Sesungguhnya mereka tidak tahu,....
Di dalam bisik lembab air matamu 


Kasihmu dalam ikhtiar penyelamatan atas kami
Mungkin kau akan berujar
” Mungkin kau membutuhkan darahku
untuk melepas dahagamu...
Mungkin engkau butuh kematianku
Untuk meneguhkan hidupmu...
Ambillah, ambillah,...
Akan kumintakan ijin kepada Allah yang memilikinya
Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan kurindukan”1

 Ya... Ahmade....
Cinta manusiamu begitu dalam dan luas
Cinta-Mu begitu paripurna
Lalu cinta mana lagi yang ku butuhkan
Mungkin aku masih membutuhkan cintamu

 

1. sepenggal lirik lagu caknun

                            

Cynic...

 

Kemiskinan……

Uang…………..

Obsesi……………..

Harapan……………

Jalan-jalan panjang dengan jati yang meranggas dan cemara yang tergulai lesu. Aku memandang rumah-rumah tanpa siku dan tulangan berdiri reyot. Orang-orang tua tanpa alas kaki berjalan mencakar-cakar dengan kuku kakinya di jalanan aspal yang berlubang. Entah apa yang ada di dalam pikiran penghuni rumah itu, atau yang ada dalam benak mbah kayu baker itu, semoga tidak semenyedihkan perkiraan ku, tapi……, bagaimanapun menurut kelayakan hidup dan kesejahteraan umum, yang terus didengungkan pemerintah tentu ukuran hidup tadi tidak layak. Akupun sedih tak beralasan, rasanya seperti ketika patah hati pertama kali. Perih begitu saja dan sebel.

Banyak lagi potret kemisikinan yang selalu meilintas di kepala ku bila lagi sadar. Anak-anak yang melamuni mimpinya di pertelon lampu merah yang berdebu, petani yang frustasi karena insektisida dan pupuk impor yang kadung meracuni tanahnya, pengrajin makanan daerah yang omsetnya tidak lebih dari 30.000 satu hari dengan untungnya tidak laebih dari 10.000 perhari, dan itu berlangsung puluhan tahun. Tukang beca yang terkapar kantuk lantaran penumpang menghilang dibawa taksi dan angkot. Ratusan penjaja di kereta api ekonomi yang tiap malam ngelembur menjajakan barang yang sama. Rokok, aqua, lamting, nopia, pecel, kacang dan sebagainya tanpa tau inisiatif dan teori lain dari market driven, persaingan pasar, monopoli dan dominasi. Merekapun dari tahun ketahun begitu,……miskin.

Tetangga –tetangga ku di daerah yang mengekspor anak putrinya menjadi TKI dan pemuda-pemudanya yang terjebak meodernitas yang ndak seimbang, ibu temanku yang kekurangan uang untuk hidup satu dua hari dan terpaksa berkompromi dengan rentenir. Dan kaum menengah yang selalau bermimpi untuk segera menjadi kaya dengan menginjak dahi-dahi simiskin yang ada di bawahnya. Tapi aku bisa apa……………..

Hampir 40 juta pengangguran yang ada di Indonesia. Kesadaran intelektualku mengatakan ada persoalan structural dan persoalan diri bangsa yang tak kunjung bangun. Ketidak mampuan kaum menengah atas, yang notabennya terdidik dalam menciptakan lapangan kerja adalah salah satunya. Tata kelola pemerintah yang tidak memberikan ruang yang nyaman bagi pengusaha mikro juga persoalan lain lagi. Pemerintah masih terus percaya dengan konglomerat-konglomerat hitam yang brengsek itu. Segala produk perbangkan dan asuransi terus memanjakan mereka dalam mengeruk profit. Sebagian besar lupa dengan tanggung jawab sosialnya, sebagian lain merusak lingkungan dengan membabi buta. Tenaga kerja dan kesejahteraan menjadi persoalan yang tidak terlalu penting bila dibanding neraca keuangan, Return of investmen, BEP dan barang tentu marjin……mmm I love it. Aku sekarang mulai memahami logika itu atau mungkin juga mulai percaya,……duh Gusti aku bisa apa………….

Intelektual-intelektual menara gading selalu bicara dengan statistic dan grafik yang selalu di mark-up sesuai kepentingan. Kadang angka kemiskinan akan sengat tinggi bila sedang mangajukan proposal proyek pengentasan kemisikinan. Di sisi lain kadang angka kemiskinan sangat rendah bila wayahnya “Ndobos” keberhasilan-keberhasilan programnya. Aku jelas tidak percaya..!!, selama pemuda-pemuda dan ibu-ibu tua itu limbung diperempatan dan menyerah dengan menengadahkan tangan.

Ruang lobi dan perasmanan menjadi tempat untuk membicarkan kemiskinan dan kelaparan. Lupa kalo perut terus diisi dengan makanan yang seharusnya lebih di peruntukan ke objek yang sedang mereka bicarakan. Kemiskinan seperti lagu blues yang lesu namun cocok untuk mengiringi standing party. Hanya menjadi lips service pembicaraan. Padahal yang selalu muncul dalam benak mereka adalah promosi jabatan dan doa kepada Allah SWT agar 10% atau paling tidak 3% dari nilai proyek bisa mereka ambil (standar overhead ongkos broker). Bila ditanya kenapa kok besar sekali overhead-nya maka jawabannya agar kita dalam menjalankan tugas tidak korup. Padahal rekanan subcon proyeknyapun seudah nge-deal 5 % untuk sang intelektual. Aku mulai tau itu dan mungkin mulai belajar-belajar......, Duh…………. Aku bisa apa….

Yang bekerja di perusahaan minyak atau sekelasnya memiliki tunjangan yang banyak, gaji mencukupi dan fasilitas hidup yang aman. Setahun sekali atau lebih menyisihkan hartanya untuk dibagikan kepada si miskin sembari berdoa dengan khusuk untuk diterima amalnya,….. mungkin tidak tau kalo perusahaanya itu adalah pengabdi terbaik dari materialisme dan kapitalisme. Ah……..,bukankah tidak tau dalam islam itu bisa dimaafkan, atau mungkin aku yang terlalu sok tau. Tapi ahli ekonomi politik itu mengatakan hal yang sama tentang kelakuan asli dari korporasi bahan tambang, perbangkan, kayu, teknologi dan sebagainya. Pernah dengar seorang ahli ekonomi pasar yang namanya mirip gitarisnya Megadeth, Prof Molten friedmen Harvard University, dia mengatakan alat korporasi dalam memperluas eksplorasi dan pasar adalah dengan sogok dan intimidasi. Jadi sekeras apapun pegawai Caltex, Freeport atau bahkan Pertamina mengatakan bahwa tangan mereka bersih, saya terlanjur tidak percaya. Buktinya Negara tidak pernah kaya dengan keberadaan mereka-mereka itu, angka kemiskinan terus membumbung. Namun sebaliknya mereka dan seluruh pekerjanya terus kaya. Lalu apa yang bisa ku lakukan……mungkin aku terlalu….NAIF…..

Potongan

Karena kami arus kali
Dan kau batu tanpa hati
Maka... air akan mengikis batu....

The Pathway Of Dead capital ( Pikiranku Merunut Fernando De Soto)

DEAD CAPITAL Sebuah pemikiran

Sebuah trobosan ide dari seorang Fernando de soto untuk mencari jalan keluar dari sistem pasar yang tidak bisa membuktikan tesis awalnya.
Bila kita sedikit membaca tentang apa doktrin pertama dari kapitalisme maka kita akan menemukan ide bahwa sistem pasar yang liberalizm pure akan memunculkan mekanisme yang secara otomatis mapu mensejahterakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dan tidak hanya itu barnag yang dihasilkan dari sebuah sistem pasar bebas akan otomatis berkualitas dan terus berevolusi menjadi lebih dan lebih. Karena ide dasar dari inovasi manusia akan bisa di dorong manakala pasar menghendaki. Inilah ide dasar dari the invisible hand of capitalizm. Dan dengan ide inilah segala instrumen peradaban di dorong untuk mendukung ide ini. Di Budaya kita kenal dengan Globalisasi yang artinya segala hal "haram hukumnya" untuk dilarang masuk ke negara lain. Ekspor budaya khususnya dari amerika dan eropha mencoba mansamaratakan tata nilai di negara-negara lain. Tidak perduli negara itu miskin atau kayak semuanya akan tau bahwa cantik itu seperti Britney spears dengan segala aksesorisnya. Di bidang politik di dorong dengan kepercayaan terhadap demokrasi. Nama "Tuhan" lain yang sangat diagung-agungkan hampir di setiap pojok dunia. Tapi apakah semuanya itu kemudian melahirkan apa yang disebut Eudoimania atau kesejahteraan bersama...?

Amerika adalah degara yang mengklaim dirinya berhasil menggunakan sistem ini. dengan fundamentalis makro ekonomi yang paling mapan dan GDP yang paling besar maka ide pasar ini mau tidak mau dipercaya oleh negara-negara lainnya. Dulu pernah ada sosialisme yang melawannya dengan gigih. Walaupun pada akhir 70-an ide sosialisme ini tidak populer lagi.

Sebut saja China dengan Mao-nya dan Rusia dengan Lenin-nya. Keduanya pada akhirnya hanya menggunakan ide sosialisme sebagai legitimasi kekuasaan untuk menstabilkan kondisi politik yang pada akhirnya menstabilkan investasi/ kekuatan kapital itu sendiri. Banyak orang yang masih berfikir bahwa perkembangan china yang dahsyat lahir dari pada rahim sosialisme dan tentu saja anggapan itu salah besar. Sejak masannya Deng-Xioping sosialisme dirubah menjadi "kucing" lain. Bagi Deng tidak perduli kucing itu hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus maka itu lah yang dipelihara. Dengan bahasa lain tidak penting apakah sosialisme atau kapitalisme selama mampu mensejahterakan rakyat maka itulah yang dipilih. Dan sosialisme china meluntur sejak itu.

Kembali ke pertanyaan pada akhir paragraf pertama dengan bahasa lain apakah sistem pasar sudah berjalan sebagaimana mestinya?. Fakta membuktikan bahwa hampir sedikit dari negara-negara berkembang berhasil menerapkan sistem ini. Sebut saja Bangladesh, Indonesia,Mesir,  Thailand, filiphin dan banyak negara afrika selatan Justru mengalami jumlah angka kemiskinan manakala mereka percaya dengan sistem pasar. Sistem pasar justru memberikan instrumen jitu untuk orang kaya bertambah kaya dan orang miskin bertambah miskin.

 

Self value/ Paradigma alternativ

Dalam etik kapitalis dikenal dengan self value yakni dilai diri. Ukuran yang dipergunakan dalam hal ini tentu pada rasionalitas pasar, yakni sejauh apa manusia mampu mendukung perkemangan produksi dan margin. Tidak penting apakah orang itu pembohong, cabul, mungkin psikopat dll. Sehingga dalam kapitalisme tidak dikenal istilah buruh atau pekerja itu yang dikenal adalah satu istilah yakni pedagang. Seorang buruh pabrik tidak bisa dikatakan sebagai pekerja pabrik itu sehingga berhak atas tunjangan, Jaring pengaman sosial dan seterusnya. Melainkan dia hanya seorang individu yang menjual keahlian tangannya. sehingga dia di nilai bukan sebagai manusia yang bekerja melainkan hanyalah tangan yang memiliki self value. lalu kemudian muncullah pekerja kontrak, penghapusan tunjangan buruh dll, yang semangatnya tidak lain untuk menekan biaya produksi.

Menurut penulis ide fernando de soto bahwa orang-orang miskin harus di dorong untuk "melegalkan" kekayaannya dalam bentuk sertifikat, KTP diri dan lainya masih kurang revolusioner. Dalam negeri yang memiliki birokrasi yang "antik" seperti indonesia hal-hal tersebut sulit dilakukan. kalu china bisa membuat Izin usaha selama 3 hari dan 2 jam untuk pesanan super cepat maka indonesia akan memakan waktu 1-2 bulan. Belum sempat usaha mesti sudah bangkrut duluan.

Pemikiran fernando de soto masih terlalu berkutat pada struktur negara sebagai satu-satunya pasar yang terligitimasi secara publik. Di indonesia manakala ukuran-ukuran ekonomi makro tudak bisa dijadikan dalam mengukur tingkat ekonomi bangsa maka struktur bisa sedikit dimarginalkan. Sekali lagi penulis katakan struktur negara bisa di marginalkan bagi para pengusaha-pengusaha kecil. Penulis tidak sedang bicara tentang bagaimana membuat company atau industri. tapi sedang bicara tentang bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat. Karena premis diatas tentang memarginalkan struktur pemerintah tentu tidak berlaku untuk company atau industri yang tentu akan memiliki implikasi lansung dengan ebijakan pemerintah.

sehingga pengembangan usaha rakyat seperti UKM bisa berjalan tanpa secara signifikan terpengaruh kebijakan pemerintah.
kembali ke beberapa paragraf diatas tentang self value, kalau kapitaslis hanya menggunakan ukuran-ukuran rasional positiv maka kita perlu paradigma lain tentang self value yang secara komprehensif menilai manusia. Seperti nilai kejujuran, kerjakeras, keuletan dan nilai -nilai produkif lainnya. Penulis bertanya sejak kapan nilai-nilai ini tidak bisa menjadi garansi oleh orang untuk melakukan peminjaman modal?  tentu sejak perbangkan menguasai logika ekonomi kita. Kapan? manakala kapitalisme bembang secara masif.

BMT Al-Facindo In the Case

Tawaran seperti ini bukanlah sebuah hal yang mengada-ada. Contoh kasus BMT Al-Facindo di sebuah pojokan turi, jogjakarta memberikan pinjaman modal tanpa agunan. Garansinya adalah kesaksian masyarakat akan kejujuran dan keuletan orang tersebut. Atau orang terebut harus aktif pengajian sebagai ukuran kesolehan (dalam pandangan islam), dengan rekomendasi 4 ustad yang terpercaya maka orang tersbut bisa melakukan pinjaman untuk melakukan kegiatan usahanya.Dan ini sekali lagi tidak memerlukan instrumen pemerintah dalam meligitimasi orang tersebut. Apa anda percaya...?

Ini menunjukan bahwa kapitalisasi diri bisa dilakukan oleh orang-orang yang tak punya modal sekalipun. Dengan penanganan yang disiplin BMT ini sekarang sudah tersebar luas di seluruh indonesia hanya dalam waktu 7 tahun. Penulis kira tanpa berusaha membesar-besarkan contoh diatas, maka kita perlu paradigma lain tentang modal, investasi dalam mind sate berfikir ekomnomi kita. Mengentaskan kemiskinan adalah penulis kira bukan hanya bicara tetang pasar modal- nilai tukar, bunga bang investasi asing. Tapi harus ada sistem lain yang lebih dekat dengan suprastruktur masyarakat. Dan memahami kearivan kapital of wisdom value dalam society itu.

Menggagas pemikiran de Soto bahwa bagaimanapun pengusaha kecil harus dimudahkan oleh pemerintah dalam melegalkan kekayaan untuk melakukan peminjaman kemodal. Maka penulis meneruskan bahwa pengusaha kecil atau mungkin teri perlu mengakumulasikan sosial cpitalnya dengan bantuan lembaga yang memiliki ukuran lain tentang self value. Dan pasar kalau menurut de soto adalah arus utama modal, negara dan industri. Maka menurut penulis pasar untuk pengusaha kecil tidak hanya itu dalam konteks indonesia.

imagination embraces the entire world.

Mukit Hendrayatno

Sajak Joki tobing untuk Widuri....

Sajak Joki tobing untuk Widuri....

 

Dengan latar belakang gubug-gubug karton

Aku terkenang akan wajahmu

Di atas debu kemiskinan

Aku berdiri menghadapmu

Usaplah wajahku widuri

 

Mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran

Ciliwung keruh wajah-wajah nelayan keruh

Lalu munculah rambutmu yang bertebaran

 

Kemisikinan dan kelaparan

Membangkitkan keangkuhanku

Wajah indah dan rambutmu

Menjadi pelangi di cakrawalaku

 

Sajak Widuri untuk Joki Tobing

 

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir

Kemarahan merundung di dalam kalbu purba

Orang-orang miskin menentang kemelaratan

 

Wahai joki tobing keseru kamu

Karena wajahmu muncul dalam mimpiku

Wahai joki tobing keseru kamu

Karena terlibat aku di dalam nafasmu

 

Dari biskota ke biskota kamu memburuku

Kita duduk bersanding melihat kisah hidup yang kuno

Dan perlahan tersirat darah kita

Melihat sekuntum bungan telah mekar

Dari kebebasan yang putus asa

Lupa, Dilupakan dan Terlupakan....

Pergulatanku dengan Lupa…

 Remember,….
I will still be here
As long as you hold me….
In yours memory…

 

Ketika kita tidur kita tak kuasa menahan kesadaran untuk memngingat waktu-waktu yang kita lalui di hari itu. Ketika kita merayakan tahun baru, dasawarsa umur kita, seabad perjalanan bangsa, kita tak mampu untuk mengingat setiap jengkal waktu yang kita lalui. Lalu kita membutuhkan media untuk mengingatnya. Kita membutuhkan perayaan untuk merangkai romantisme lama yang boleh jadi telah porak poranda. Lalu kemudian lukisan-lukisan muncul, sajak-sajak di buat, liturghi-lithurgi di ukir, monument-monument di bangun, musium-musium diletakkan di pusat kota, foto-foto di pampang, film dibuat dan perayaan di biyayai untuk sebuah ingatan yang selalu kalah oleh waktu....

Remember,….
Time can be transcended,
Just remember me……
 

Semua manusia, mahluk hidup dalam wilayah dialektika materi akan berusaha mempertahankan dirinya dari lupa, dilupakan atau terlupakan. Lupa memaksa manusia yang gundah membuat dirinya ada. Lalu kemudian munculah jenis manusia yang melawan kehendak dewa. Menghancurkan kuil apollo disemenanjung yunani, meperbudak ribuan manusia untuk membangun makamnya yang menjulang hingga singga sana Aramon, menguasai daratan dari macedonia hingga india, berlayar mengelilingi sepertiga dunia untuk The New Land, melibatkan puluhan bangsa untuk berperang demi ras baru, bahkan menjadikan terbang ke bulan memiliki makna harfiah. Semuanya diingat atau semuanya dilupakan. 100 orang besar diingat atau 1000….? yang kita mampu ingat dalam insklopedia hidup kita, atau dalam rak perpustakaan ingatan bangsa kita. Sementara jutaan, bahkan miliaran telah terkapar berlalu begitu saja dikalahkan oleh lupa...

 I am the one star that keeps burning, so brightly,
It is the last light, to fade into the rising sun….

 Setiap sinar yang kita munculkan adalah cahaya penghabisan yang tidak bisa kita ulang dilain masa. Waktu terus bergerak maju. Apakah cahaya kita akan bertahan sebagaimana matahari yang menemani sejarah umat manusia. Atau bahkan bulan yang menemani malam-malam panjang yang kesepian. Dalam hidup yang sekali bisa jadi kita mati berkali-kali secara eksistensialis. Memang kadang kala menyakitkan melihat bangunan-bangunan impian kita runtuh oleh masa. Tetapi lupa melahirkan kita untuk yang kesekian kali untuk kembali bangkit sembari menunggu kita di penghujung penghidupan untuk dilupakan selama-lamanya. Dan Milan Kundera, Checoslovakia, menulis ”musuh terbesar umat manusia adalah dalam melawan lupa...........”

I am that one voice, in the cold wind,
That whispers…….
As long as,
I still can reach out, and touch you,
Then I will never die………………

For Exist

FOR EXIST

Cause the power is not mine

And all I couldn’t taste is this moment,

And all I couldn’t breathe…..

'Cause sooner or later it's over,

I just don't want to hiding

From beneath of the dark sky

 

Night time comes so late

I’ve been waiting for wonderful dream

And carry’s me to stranger place

Take the flawless mercy

 

You know who I am, Don’t you?

When you faced my mistake as ashes

And memory couldn’t cover by pine

Fracture…..!

But I attended to link again

 

My imagines are running deep

But at same time my feeling is gone

God give me the power to take breathe from braze

And call life from stillness for the immortality soul

 

                                            mukit's poem/di sore yang mengintimidasi

JUARA

Dalam pertandingan……………

Haya ada satu pemain yang bermain dengan tenang…

Dan memenangkan pertandingan…...

 
    Sebuah falsafah yang menarik yang menganggap bahwa hanya pemain yang memiliki ketenangan lembah yang pantas disebut pemenang. Dalam hidup semua orang bertanding. Berkerumun, berkejaran seperti semut-semut yang berbaris rapih ketika mencari makan dan membawa kesarangnya manakala mendapatkan makanan. Tetapi pertandingan yang kita hadapi diatur oleh seperangkat hukum-hukum alamiah yang memerlukan sebuah basirah untuk dapat mengetahuinya. Diperlukan ketenangan untuk mematuhinya. Dan diperlukan wisdom untuk mencapai kemenangannya. 

Setiap bagian dari hidup memiliki tempat-tempat untuk bertanding. Di rumah kita bertanding untuk menjadi penghuni yang baik, di jalan kita bertanding untuk memeatuhi marka dan lampu merah. Lebih luas lagi kita bertanding memacu diri melewati rintangan yang kadangkala tidak mampu dilewati orang lain. Adalah juara yang memiliki stamina dan ketenangan diatas rata-rata. Mampu memikul beban dan menahan nafas lebih lama dari kebanyakan orang. Bukan lantaran dia ingin dilihat lebih baik atau lebih gagah dari yang lain. Atau bersumpah atas nama negeri, ras keturunan atau yang laiannya. Melainkan sebuah perasaan manusia yang mencoba terus menjadi lebih baik dan menjadi juara.

Manusia, bahkan dirahim dia bertanding. Sebelum kita terlahir kita bertanding untuk menjadi lebih baik dari 3 miliar calon manusia yang terpancar mengikuti hukum-hukum Tuhan. Walaupun dengan kenes ada yang menjadi pecundang bahkan ketika dia benar-benar secara wujud adalah manusia. Persoalannya adalah karena tidak menjadikan kesadaran dari pengetahuan sebagai tuntunan. Nafsu, obsesi kerdil mengalahkan kesadaran lantaran keinginan merasakan yang instant, cepat, enak tidak perlu menunggu. Padahal yang instant, kenikmatannya tidak lebih sampai tengorokan saja.

Kita harus menentukan dimana kita bertanding. Memilih lawan-lawan yang memang pantas kita lawan. Mendekati orang-orang yang memang pantas dijadikan teman,. Dan memilih lapangan dimana kita dengan bangga mencucurkan keringat bila perlu air mata dan darah. Dalam pertandingan tidak mungkin semuanya kita jadikan teman atau sebaliknya. Sudah hukum-hukum alamiahnya ada yang tak senang dan dengan sadar memposisikan kita menjadi lawannya, atau kita memandang orang lain yang memang pantas kita jadikan lawan. Kehormatannya adalah terletak bagaimana perjuangan kita persembahkan pada sebuah nilai yang kita percaya benar. Boleh jadi orang lain tidak suka tapi bukan disitu intinya.
 

Kalah bukan terletak pada seberapa banyak luka yang kita derita. Tapi manakala nilai kita gadaikan untuk sesuatu yang tidak pantas kita berikan nilai kita padanya. Urusan menggadaiakan bukan diukur dari seberapa baik pakaian anda atau posisi anda karena orang menggadaikan biasa menggunakan apa saja dan mengenakan apa saja. Tetapi bahwa ada sesuatu dari dirinya yang dia lepaskan, itulah inti dari menggadai. Dan hasil akhirnya tidak lain adalah menjadi subordinate atau pecundang yang tidak pernah dihitung dalam pertandingan.

 

Menjadi juara sejati perlu ongkos yang mahal. Dalam satu permainan hanya ada sedikit juara sejati. Yang namanya selalu harum dalam sejarah permainan itu. Karena dia tidak hanya menyelesaikan permainan. Tetapi dia juga mencatat rekor dan yang lebih penting lagi dia menyelesaikannya dengan cara-cara indah yang tidak bisa dilakukan orang lain.
 

Mr.Oumlet,.. tetap lihat kebawah…

Pukul,…. Dan biarkan bola bergulir menuju sasaranya sendiri……

Pergulatanku (terinspirasi dari smsmu)

Banyak membaca seringkali membuat manusia suka berfikir yang besar-besar. Bicara peradaban, politik, perubahan sosial, keliling dunia dan sebagainya.

Dulu saya berfikir bahwa setiap muslim harus memeiliki pandangan yang seperti diatas. Itu saya anggap sikap muslim yang modern dan kaffah. Hanya kejumudan yang membatasi seorang muslim untuk tidak mau menjelajah dunia, merubah masyarakat dan seterusnya. Sepertinya begitu absurd bila manusia hanya memikirkan lingkungan RT nya, kebersihan RW nya, mendidik anak, dan menjadi tukang batu pedagang kelontong kecil-kecilan. Dengan angkuh saya berfikir manusia-manusia yang tidak pernah diakui sejarah "being and nothingness" antara ada dan tiada. dikatakan ada tapi tidak eksist.

Setelah melalui proses berfikir nampaknya pandangan itu mengalami perubahan.

Ada sebuah cerita yang menarik dari rendra. Suatu ketika dia menyepi di sebuah bukit selama 9 hari. pusing dengan tujuan hidupnya. 9 hari itu pula dia mutih sekaligus bersemedi. Dia mencoba meminta petunjuk Tuhan agar memberikan petunjuk terhadap jalan hidupnya. Tapi apa lacur 9 hari itu pula dia tidak mendapatkan apa-apa.

Tiada wangsit, cahaya putih,atau apapun yang bisa dianggap sebagai manifestasi sabda Tuhan. Dia kalut dan pergi kekuburan dan melihat sebuah cahaya merah.
"setan, demit atau apa yang penting bisa ngomong!!
kalo pun setan itu akan saya dengar apa yang dia ucapkan.....

tapi ternyata cahaya merah itu bukan setan atau banaspati. melainkan hanya seorang yang sedang membuat arang.
Bapak itu bertanya
Nak..., kamu minggat dari rumah yah...
setelah beberapa saat diskusi bapak tadi bertanya lagi sebenarnya mau jadi apa kamu?
pertanyaan yang mudah tapi membuat rendara muda tak bisa menjawab, malah tertegun kalut.
Rendra balik bertanya, Lah kalo bapak mau jadi apa di dunia ini.
Kalo saya dek, menjadi pembuat arang yang baik saja sudah cukup.

jawaban sederhana tapi cukup menampar kesadaran yang angkuh. Luluh-lah wacana tentang roustrow, monet, atau menjadi pegawai mapan. dari sinilah kemudian rendra memilih menjadi "tukang sajak" tidak lebih, tanpa harapan terkenal,tanpa ingin eksist secara pasar. walaupun tanpa mendapatkan restu dari orang tuanya yang priyayi.

9 hari itu akhirnya dia turun gunung karena merasa sudah mendapatkan jawaban.sesampainya di jalan dia berjumpa dengan banyak truk arang yang ternyata milik juragan arang yang dia temui diatas. Juragan arang yang cukup sukses disemarang dengan lapangan kerja yang menghidupi banyak orang.

saya berkesimpulan bahwa yang membuat manusia mengada (bukan ada) itu adalah sikap batinnya . Bagaimana dia menemukan perbendaharaan batinnya. Tidak harus dia pernah menghirup salju alpen atau menciumi debu sinai, atau belajar di perpustakaan frankfurt atau bahkan mencumbui wangi hajar aswad, memenangi politik, berbicara di depan ratusan seminarist, mengkampanyekan anti perang, persamaan gender, menciptakan teknologi tinggi, menjadi pengusaha yang menguasai pasar international, atau membuat buku best seller. Itu tidak harus.

Ada berasal dari ketiadaan tapi "mengada" berasal dari ada. dalam dimensi dunia manusia pada dasarnya sudah ada tapi karena modernitas, arus perkembangan teknologi yang cepat, perubahan struktur budaya yang cepat, demokrasi yang gak jelas, informasi yang serba cepat, globalisasi, pasar dsb membuat kita yang ada seperti tiada. Tertelan sejarah yang panjang, seperti setunggal debu di padang pasir. tanpa arti, sedih,absurd dan tak menentu.maka adanya kita perlu disadari untuk "mengada".

Pencapaian "mengada" tidak harus dilalui melalui proses-proses yang bisa terukur secara positif seperti  apa posisi anda, berapa kali keluar negeri, berapa buku yang anda buat, berapa sumbangan ke masyarakat. Itu tidak harus. Walaupun baik juga bila proses "mengada" dicapai dengan cara-cara diatas.

Karena demikianlah saya berkesimpulan pendalaman batin setiap manusia, penemuan hakekat ke- Tuhanan bisa dicapai oleh siapapun. Bahkan oleh Pembuat arang, oleh sunarti penjual kelapa muda, Udin penjual bakso, oleh tardin si tukang becak. Kesetiannya dan refleksinya terhadap dunia dan pergulatannya dalam mengabda bisa mengantarkan manusia-manusia ini kedalam penyerahan batin yang pari purna kepada Tuhannya. Islam, aslamu salamah.Mereka menemukan Tuhan dalam cendolnya, menemukan tuhan dalam keringat kayuhannya.

Tapi manusia yang pernah keliling dunia, mengisi ribuan seminar, merubah masyarakat dsb, boleh jadi dia tidak mengada. Contoh  banyak profesor yang terbius parfum demokrasi, dihibur lagu dusta tentang hak asasi, matanya terpejamkan dengan hawa toleransi. Mengabdi pada zaman materi yang membuat kebahagian berada diluar dirinya. semakin dikejar semakin menderita. belum lagi status sosial, proyek, jabatan, kehormatan membuat mereka semakin buntu.

Pilihan selalu berbeda dengan cara-cara yang besar atau dengan cara-cara yang nampak kecil syah-syah saja, tidak ada yang lebih berharga. seperti wajah diciptakan tentu tidak bisa dikatakan lebih berharga ketimbang telapak kaki.Dalam ekosistem hutan, Gadjah tidak bisa dikatakan lebih berharga dari semut, api tidak lebih berharga dari abu danseterusnya...

semangat tulisan ini sederhana sebenarnya... menghargai cara hidup manusia lain. Baik secara kasat mata menurut ukuran-ukuran modern belum tentu baik hakekatnya, begitu pula sebaliknya.

sebuah teori yang sulit diamalkan

REVOLUTION

 

REVOLUTION

 

Revolusi, melawan

Menghinggapi kepala-kepala yang risih

Berteriak berkobar-kobar

Tak selesai dan takkan padam

 

Apa makna revolusi dan melawan sekaligus

Begitu pentingkah hingga darah tertumpah

Apakah cita-cita kemenangan, kalah atau yang lainnya begitu jelas

 

Bolshevik, Iran dan di banyak tempat

Dengung-dengung bising revolusi telah pecah

Menemukan jalannya bagi semangat berubah

Menceritakan keberhasilannya merah

Dan menuliskan dengan tinta-tinta darah

Nama pendukungnya yang paling setia.

 

Lenin, Mao, Soe

Apakah bagimu tetap dan berubah begitu penting?

Baikah merdeka ketimbang damai?

 

Dunia yang begitu penat makin merangsang

Melupakan nyanyian burung-burung yang bersaut

Menafikan gunung-gunug yang terangkai mesra

Melupakan ngarai dan lembah yang anggun bermakna

 

Sepertinya revolusi lebih indah dan mengalahkan semuanya

Extase jiwa-jiwa yang merana

Dalam sejarah yang panjang sebelum dan sesudahnya.

Sebuah Refleksi Tentang Kemandirian Bangsa

DICTUM

Sudah menjadi sebuah diktum bahwa sebuah negara dikatakan maju peradabannya manakala mampu menciptakan  teknologi yang mutakhir. Walaupun sebenarnya persoalan peradaban itu tidak bisa selalu berbanding lurus dengan produksi teknologi. Karena persoalan peradaban adalah persoalan bagaimana manusia bisa hidup semanusia mungkin. Dan perdebatan di wilayah ini akan rumit manakala mainstream ideologi menjadi pisau analisis untuk membedah ini perihal itu.

Dari banyak ukuran tentang beradab atau tidak sebuah bangsa, ada satu ukuran turunan yang cukup fundamental dalam melihat martabat sebuah bangsa. Adalah kemandirian nilai yang mampu menempatkan sebuah bangsa untuk  berani berdiri sama tinggi dan duduk sama dalam pergaulan internasional. Sebagai mana manusia negara juga membutuhkan ruang hidup, penghasilan, eksistensi, hasrat dan seterusnya. Hanya saja negara adalah manusia dalam jumlah besar yang kadangkala memerlukan usaha serius dalam menemukan dirinya dan menemukan visi dan misi hidupnya. Dalam hal ini tidak bisa visi-misi itu disematkan oleh beberapa kumpulan elit masyarakat saja, atau beberapa teknokrat yang dianggap memahami materi zaman, atau para cendikiawan yang dianggap mampu melihat masa depan negara atau bahkan para polkitisi yang memimipin sebuah negara itu. Kemaun atas hidup itu harus ditemukan atau dibangkitkan dalam diri seluruh manusia yang menjadi stackholder sebuah  bangsa.

Kombinasi antara pemahaman filosofis atas wawasan kebangsaan dan analisis sosiologis sebagai penjelasannya. Merupakan hal yang penting untuk diketahui bagi siapa saja yang akan membangun bangsa ini. Agar tidak terjebak dalam kungkungan mainstream ideologi. Tidak terjebak dalam sosialisme absurd atau kapitalisme dengan divelopmentalizm buta. Yang satu membabi buta seolah-olah sejarah adalah berada di tangan struktur proletariat. Yang satu membabi buta percaya akan fundamentalisme pasar dan mekanisme invisible hand. Dan kalo boleh dikatakan tidak berhasil maka kedua-duanya tidak berhasil. Yang satu terlalu misikin yang lain terlalu kya tapi sama-sama kehilangan makna manusianya. Sedangkan terlalu banyak korban yang menjadi wadalnya. Kendatipun kini korban disisi kapitalisme lebih banyak dan terus bertambah. Baik secara sadar menyerahkan dirinya atau secara tidak sadar karena mengangggap kemajuan negara dominan itu bisa di tiruh seluruhnya baik secara ekonomi, politik hukum dan seterusnya. Dan akhirnya kita mengenal teori dependensia atau hegemoni-Gramsci sebua analisis tentang ketergantungan negara-negara dunia ketiga terhadap negara patronnya. Ketergantungan yang bukan merupakan sebuah pilihan. Karena tanpa negara maju  melakukan apa-apapun konon negara-negara dunia ketiga tidak akan bisa untuk tidak tergantung.

The Pathway

Setiap-kesulitan mesti  ada kemudahan, setiap penyakit ada obatnya, setiap masalah mesti memiliki jalan keluar dan tidak bisa di pungkiri juga selalu ada angin segar dalam sebuah kebuntuan usaha. Adala Iran, China, Bolivia yang memberikan sedikit angin segar itu.

Bila kita tengok bagaimana Iran dan china mampu menurunkan karakter kebangsaanya dalam menjawab tantangan zaman. Kita akan tahu bahwa setiap negara memeiliki metode dan keyakinannya sendiri-sendiri dalam mencari jalan keluar tersebut.

Iran adalah negara yang berpenduduk 60 juta jiwa. Dengan homogenitas kepercayaan dan ideologi. Negeri yang dalam mainstream sejarah islam disebut syia’ah ini menggemparkan seluruh belahan dunia. Terutama dalam penyikapnnya terhadap persoalan poitik dunia. Sebelum revolusi iran di tahun 70-an kita akan melihat iran sebuah bangsa tidak bisa dikatakan baik. Kepercayaan tentang mahdiisme dan mistisisme imam (gelar kepemimipinan ulama) malah justru membuat iran stagnan dan tidak memiliki perkembangan berarti. Di tambah lagi struktur pemerintahan yang berbentuk monarki absolut juga persoalan besar lain, dimana korupsi dan gaya hidup kerajaan yang cukup mewah menambah beban bagi kemajuan iran sendiri. Tafsir keagamaan yang tidak merevivalisasi kehidupan rakyatnya adalah stagnasi pemikiran iran yang membuat tidak produktif. Persoalan yang sedimikian rumit ini telah berusaha diselesaikan oleh beberapa komunitas minor yang menganggap perlunya perubahan cara hidup, dan penafsiran kembali tentang ajaran agma yang menjadi basis hidup masyarakt iran.

Adalah Al-Afghani yang menjadi pelopor penafsiran kembali pemikiran tentang kebangkitan umat baik secara pribadi maupun secara komunal. Baik dalam lingkup iran ataupun dalam pergaulan internasional. Dan diawal tahun 70-an meledaklah sebuah revolusi yang dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Ayatullah Khomeni. Majalah time mengabadikan peristiwa ini dengan headline-nya yang berjudul “Mullah chalange the Word”.

Momentum ini tidak hanya mereformasi secara struktural tetapi juga mereformasi mindset bangsa dan word view atas Tuhan, alam, intelektualitas dan masa depan sebuah bangsa. Formulasi yang diciptakan kemudian adalah membentuk sistem politik syuro dengan pemilihan president secara demokratis. Sistem pendidikan dipilih mengikuti tradisi islam dengan tidak hanya menggunakan sistem belajar mengajar secara formal. Malainkan juga sistem halakah/ perkumpulan kultural di masjid-masjid dengan guru menjadi pembimbing dan yang lain bebas menyampaikan pendapat. Reformasi pemikiran juga di gagas oleh bebrapa tokoh ulama seperti Ayatullah khomeini, Murtadhamuntahati, Taqih Misbaq, dan banyak yang lainnya. Dan yang menjadi luar biasa adalah iran tidak memilih barat sebagai referensi utama dalam mewujudkan kemandirian bangsanya. Iran tidak memilih system ekonomi pasar, iran tidak memilih mainstream developmentalizem, Iran tidak memilih sistem politik dan perundangan barat. Namun Iran secara jeli memilah-milih kelebihan barat yang bisa diadopsi tanpa merubah karakter bangsanya.

Sehingga kita bila berkunjung kekota iran akan kesulitan menemukan gedung-gedung pencakar langit dan papan iklan yang gemerlap. Kita juga akan sulit menemukan mobil mewah dan diskotik dan tempat hiburan mewah. Kita juga akan tidak menemukan kantor pemerintahan yang mewah dan sebagainya yang merupakan simbolitas dari developmentalism ala barat. Tapi di balik itu kita akan dengan mudah menemukan perpustakaan kelas internasional dan lab-lab teknologi dengan fasilitas dan produktivitas hasil karya yang baik. Iran sadar bahwa tidak mungkin menghindari globalisasi pergaulan dunia. Globalisasi harus dihadapi sebagai tantangan bangsa. Iran sadar bahwa pencapaian teknologi adalah kemutlakan bagi bangsa yang ingin berdiri dikakinya sendiri. Iran menangkap betul semangat teknologi adalah make the better living. Tapi tidak untuk satu elit golongan saja melainkan untuk seluruh bangsa.

Kini kita menyaksikan bagaimana Iran sebagai sebuah bangsa mampu menjadi mandiri. Dalam pencapaian teknologi Iran mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara kaya. Dalam pergaulan politik internasional Iran berani menyampaikan pendapatnya dengan bebas. Dan dalam perkembangan ekonomi iran kuat bahkan ketika mengalami embargo ekonomi amerika selama 12 tahun. Ditambah lagi peran aktifnya dalam memberikan bantuan kepada negara-negara yang terkena bencana alam seperti india, indonesia dan sebagainya. Iran juga berani mengambil langkah sulit untuk membantu dan bekerjasama dengan negara-negara yang diembargo ekonominya oleh Amerika. Menjadi insaflah kita bahwa kemandirian sebuah bangsa bukan terutama terletak pada gedung pecakar langit yang megah, bukan terletak pada gaya berpolitik yang bebas, bukan terletak pada konsumsi sumberdaya yang boros, bukan juga terutama terletak pada sistem ekonomi yang mengikuti disiplin up-todate dari perkembangan ilmu ekononmi yang paling mapan. Atau bahkan tidak juga terutama pada GDP atau GNP yang tinggi. Melainkan kemandirian adalah ketika daya cipta, karya dan karsa sebuah bangsa di jadikan modal utama bagi pemenuhan kehidupan pribadinya atau dalam mensejajarkan dirinya dalam pergaulan internasional. Berani memberikan sikapnya tanpa takut dimusuhi atau di cekal akses ekonomi dan militernya.

China

Lain Iran lain pula china yang memilih merubah ideologi sosialismenya menjadi kapitalisme yang smooth. Negara besar dengan penduduk lebih dari satu miliar ini pernah percaya dengan doktrin sosialismenya Marx yang kemudian di praksiskan oleh Lenin lalu di implementasikan oleh Mao Zedong di  China. Pertengahan tahun 60-an adalah masa dimana china diajak oleh pemimpin besar Mao untuk melakukun revolusi budaya. China yang berbentuk kekaisaran dan struktru sosiologis yang berumur ribuan tahun dirubah secara radikal dengan doktrin Sosialis ala Mao. Ini memungkinkan karena struktur politik lama tidak pula mampu menciptakan kehidupan rakyat yang makmur. Gelombang sosialisme dunia menerjang china, yang pada akhirnya di Tangan Mao menjadi ideologi china. Perubahan besar-besaran terjadi pada setiap kepercayaan dan segala cipta budaya lama. Selurh rakyat diajak percaya dengan cita-cita pemerataan. Rakyat diminta dan dipaksa untuk berkorban bagi rezim proletariat yang nantinya pada suatu saat akan mencapai masyarakat yang rata/ masyarakat komunis.

Beberapa penggalan cerita menyampaikan betapa powerfull-nya seorang Mao dengan sosilismenya. Struktur rezim yang dilegitimasi oleh ideologi atas nama kebersamaan mampu mencengkram seluruh dimensi kehidupan rakyat. Semuanya harus sosialis dari musik, sastra apalagi politik semuanya harus memunculkan nada Do sama dengan koumis. Yang tidak setuju akan berakhir di tiang gantungan atau dieksekusi secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Sebagaimana John Lock percaya bahwa kekuasaan pada dasarnya menyimpang. Begitu pula rezim Mao yang terlalu kuat akan menyimpang pula. Atas nama kebersamaan rakyat di korbankan. Jutaan rakyat kelaparan karena mengikuti seluruh program yang dicanangkan pemerintah. Sebuah contoh, pernah suatu ketika Mao mencanangkan Bulan besi dan baja. Karena ketika itu china membutuhkan itu untuk memperkuat militernya dalam perang dingin. Maka seluruh rakyatnya harus menyumbangkan kemampuannya untuk dapat merealisasikan itu. Pemuda yang memiliki tenaga bekerja di pusat penambangan. Sedangkan keluarga miskin yang tak punya uang untuk mengganti harus pula menyerahkan barang rumah tangganya yang terbuat dari logam. Panci, sendok, garpu yang terbuat dari logam disita demi memenuhi kebutuan program pemerintah. Sedangkan yang melawan berarti tiang gantungan karena dianggap melemahkan cita-cita bersama. Mao lupa satu milliar rakyatnya tidak semua seperti dirinya, tidak semua rakyatnya mau berkorban dan faham sosialisme marx seperti Mao. Pada akhirnya kelaparan yang meluas dan kepemimpinan mau yang menurun dan perang dingin yang hampir usai memaksa pemikiran ulang tentang sosialisme china.

Setelah Mao meninggal di pertengahan 70-an. Muncullah pemimpin baru Deng Xio ping. Seorang didikan Mao yang tidak percaya seluruhnya Doktrin Mao. Deng tidak memaksakan dirinya untuk mengikuti sosialisme yang selama ini terbukti justru menyengsarakan rakyat. Bagi dirinya yang memiliki haluan sosiallisme yang lebih pragmatis, tidak penting apakah sosialisme atau kapitalisme yang penting adalah bagaimana memberi makan rakyat kini yang sedang kelaparan. Pepatahnya yang paling terkenal yang menunjukan bahwa dirinya bukanlah seorang politisi aliran menyebutkan “tidak penting kucing itu hitam ataupun putih asal dia mampu menangkap tikus maka kita akan pelihara”. Sebuah pepatah yang menunjukan bergesernya sosialisme china atau lebih tepatnya perubahan sosialisme china.

Di tangan Deng China menjadi negara yang sangat terbuka dengan pihak asing. China kini sadar bahwa menutup diri secara radikal malah justru menjerumuskannya kedalam kesulitan. Dengan modal kekayaan alam yang berlimpah dan sumber daya manusia yang banyak dan murah. China memulai membuka dirinya dan memastikan dirinya untuk menjadi saurga bagi investasi. Model birokrasi dan kebijakan politik yang longgar bagi investasi asing seperti karpet merah yang siap menyambut tamu terhormat. Effesiensi administrasi bagi investor sangat diperhatikan untuk pendirian usaha. Segala macam kewajiban administrasi investor di buat semudah mungkin. Muncullah kawasan-kawasan industri teknologi yang luar biasa. Di tambah lagi gedung-gedung pecakar langit dan papan reklame yang gemerlap. Eksekutif-eksekutif muda baru dengan limosinnya. Simbol dari kemajuan china yang mencengangkan.

Namun kesadaran china tidak hanya sampai pada pertumbuhan ekonomi saja. Dia sadar bahwa bila hal ini tidak di barengi dengan kebijakan lain maka negaranya akan tergadai oleh kekutan kapital dunia. Sehingga di awal pembangunannya china membeli banyak hakcipta. Tujuannya adalah agar bangsanya dapat menciptakan sendiri barang-barang dengan value teknologi. Dengan demikian negaranya tidak hanya menjadi transit dari perakitan teknologi asing. Melainkan juga secara bertahap mengimbangi teknologi yang dunia untuk kemudian menciptakan sendiri dan menjadi komoditas yang sarat value. China juga sangat memperhatikan kemajuan pendidikannya karena tanpa itu bangsanya takkan mampu mengawal perkembangan ini. Kita sering mendengar bagaimana para ilmuwan china kini berada di seluruh dunia untuk mempelajari ilmu dan teknologi untuk diberikan bangsanya. China juga tidak melupakan konfusionisme sebagai pondasi kepercayaan masyarakatnya. Dengan merevisi tafsir sebagaimana yang dilakukan iran jadilah konfusionisme ajaran yang progresif yang mendukung kemajuan bangsannya.

China dengan pertumbuhan ekonominya hingga 10 % pertahun dan iran dengan nuklir dan kesedeerhanaanya menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan dunia. Ada nilai di kedua negara itu yang menjadikannya bermartabat. Yakni kemandirian dalam menentukan masa depan bangsanya. Kalau Iran dengan kekuatan homogen bangsa, minyak dan nuklirnya. Maka china dengan produksi masal barang elektronik yang murah yang sulit dikalahkan. Keduanya memiliki kearifan sendiri dalam menentukan masa depannya. Tetapi bukan juga keduanya tanpa kekurangan. Baik China ataupun Iran keduanya juga punya kekurangan. Misal china dimana sisi lain dari kemajuannya menciptakan kesenjangan sosial baru antara mayarakat kota dan desanya. Atau Iran yang dianggap menimbulkan perpolitikan dunia menjadi memanas. Dengan demikian bagaimana kita sebagai bangsa melihat fenomena itu kita jadikan bahan pelajaran. Yang baik dan yang memungkinkan kita contoh tentu dengan kearifan kita sendiri. Dengan kearifan inilah kita terhindar dari semangat menjiplak secara mebabi buta.

anak kecil

Tiba-tiba tangan bergerak sendiri..memijat tombol-tombol teknologi yang lahir dari peradaban.
Kadangkala gundah itu bisa diobati oleh kata-kata mutiara, selaksa doa atau sajak.
Namun kali ini lain. saya lebih memilih memandingi foto anak-anak. Anda tau kenapa rekaman segala sesuatu tentang anak-anak atau masa kecil terkadang bisa membangkitkan senyuman kita yang purba.
Tertawanya membuat kita tertawa, senyumnya membuat kita tertawa, bahkan tangisnya membuat kita tertawa.
Boleh jadi karena kita merasa bahwa anak-anak kadang melakukan sesuatu tanpa mereka ketahui maksudnya.
Anak-anak kadangkadang menertawakan sesuatu yang tidak lucu dan menangisi yang tidak penting.
Tertawa bagi mereka tidak perlu di buat sebuah pertunjukan yang lucu. atau jok-jok saru yang seringkali muncul di box tv kita. Dan menangis bagi mereka juga tidak membutuhkan seperangkat nilai yang perlu ditimbang-timbang, kemudian dipikirkan pantaskah untuk menangis.
Begitu saja ekspresi itu muncul dan sekonyong-konyong membuat kita tersenyum...

Kelebihan mereka adalah tidak pernah takut apalagi malu mengikuti kata hati. sedangkan kekurangan manusia dewasa adalah terlalu takut mengikuti kata hati. Atau mungkin terlalu sombong  dengan berpikir yang besar-besar untuk menyembunyikan kekerdilan dirinya dan  keremehan pribadinya.
Bagi saya anak-anak adalah cermin yang membuat hidup menjadi senda gurau sebagaimana Quran memuatnya.
Senda gurau yang setiap guraunnya memuat takdir, perjuangan, hidup, mati dan menuntut penyelesaian.

Mengenali



Dari Ramuan gending dan gamelan yang menawan

Aku melihat keberadaan-Mu yang agung

Dari nyanyian biduan nada arab jawa

Engkau sayup-sayup menyapaku

 

Aku Ingin mendekap-Mu

Tapi debu yang begitu tebal membuatku sangat malu

Miskat dalam diri tak pernah kumandikan dengan air dzikir

Hijab-hijab justru menjadi hiasan yang menghalangi cahaya-Mu

 

Aku tak mampu membalas kesucian cinta-Mu

Aku tak mampu menjadikan diri yang ada untuk mengada

Partikel-partikel materi yang nafsuku pertahankan menahan menghalangi

Penyatuan antara Zat pencipta dan maujud yang diciptakan

 

Aku begitu gemetar

Aku tak sanggup

Aku malu

 

Hanya kemurahan-Mu yaa.. Rabb

Aku berharap bagi penerimaanku

 

                                    Oleh-oleh dari jama’ah Maiyah

 

 

Teknologi dan Simbol Kemajuan.

Teknologi dan Simbol Kemajuan.

 

“ Engineers have the challenges and opportunities to

create a better live in the future”

Adalah sebuah platform bahwa teknik dan organisasi yang muncul dari rahimnya menyatakan memiliki kemampuan untuk membuat hidup ini lebih baik. Minimal dalam ukuran-ukuran pencapaian pendapatan dan infrastruktur yang dimiliki oleh sebuah society. Dari perspektif di atas dapat dikatakan bahwa barang siapa memilki teknologi maka dialah yang menjadi yang terdepan. Sebut saja Amerika dengan intel dan microsoft-nya, Finlandia dengan nokia nya, german dengan otomotif dan biotech-nya, bahkan Negara miskin seperti china dan India kini menanjak dengan prestasi technologinya.

Technologi saat ini tidak hanya sebuah penemuan atau perangkat kebutuhan hidup manusia yang “mati”. Melainkan technology kini telah menjadi sebuah symbol atas prestasi sebuah bangsa. Yang berimplikasi pada kredibelitas suatu bangsa itu. Bahkan pada sesuatu yang tidak berkaitan dengan technologi dalam pengertian khusus. Semisal produk Amerika dianggap mesti berkualitas semisal sepatu kulit, buah, baju bahkan hukum dan system politiknya dianggap lebih baik. Padahal relasi antara baju, sepatu apalagi hukum jauh kaitannya dengan teknologi. Apalagi bila kita tau bahwa, buah-buahan dari amerika itu secara kesehatan tidak baik, atau produk spatu kulit cibaduyut tidak kalah baik dsb. Namun karena wajah modernitas itu yang diwakili oleh tehnologi dimahkotakan kepada amerika maka jadilah persepsi itu muncul dalam benak masyarakt dunia. Dan itu mengntungkan bukan saja dari sisi technologi melainkan juga dari sisi ekonomi bahkan ploitik. Boleh jadi dari analisis inilah kemudian Iran ngotot untuk melakukan pencapain nuklir sebagai symbol modernitas yang menguntungkan itu.

Bagaimana dengan Negara kita. Tentu jawabanyya akan terdengar sumbang. Sudahmenjadi rahasia umum bahwa teknologi kita memble, pemerintah hanya setengah hati mendukung keberkembangan teknologi nasonal, tidak ada paket insentif bagi pengembangan usaha kecil yang berbasis teknologi, pemasaran yang tidak didukung, lebih senang mengekspor buatan luar dan sebagainya adalah faktor yang menjadikan élan cipta insinyur kita rendah-selain tentu masalah mentalitas- Dan kemudian orang-orang paling cerdas Negara ini terpaksa dan dengan senang hati menyerah pada Preport, Exxon, Caltex untuk menjadi perkerja disana, atau kalo beruntung dirayu untuk menjadi warga Negara asing seperti German dan sebagainya untuk diabdikan keahliannya pada Negara itu.

Dari kesadaran di atas adalah penting bahwa bangsa ini tidak harus selalu menjadi subordinate Negara lain. Diperlukan manusia-manusia tangguh dari jenis pemuda yang mau mengorbankan waktu dan pikirannya untuk merintis kerja-kerja besar itu. Seorang engineers yang memiliki banyak inisiatif pantang menyerah dan siap berhasil. Dia juga memahami realitas dan mampu membumikan cita-citanya. Sehingga keahlian rekayasanya mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas local yang dimiliki. Seorang bijak berkata “ kalu anda ingin menyeberangi samudra maka mulailah dengan satu kayuhan kecil”.


* tulisan ini unutuk raker Fam-pii

 

SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI........

Sajak Joki tobing untuk Widuri....

 

Dengan latar belakang gubug-gubug karton

Aku terkenang akan wajahmu

Di atas debu kemiskinan

Aku berdiri menghadapmu

Usaplah wajahku widuri

 

Mimpi remajaku gugur di atas padang pengangguran

Ciliwung keruh wajah-wajah nelayan keruh

Lalu munculah rambutmu yang bertebaran

 

Kemisikinan dan kelaparan

Membangkitkan keangkuhanku

Wajah indah dan rambutmu

Menjadi pelangi di cakrawalaku

 

Sajak Widuri untuk Joki Tobing

 

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir

Kemarahan merundung di dalam kalbu purba

Orang-orang miskin menentang kemelaratan

 

Wahai joki tobing keseru kamu

Karena wajahmu muncul dalam mimpiku

Wahai joki tobing keseru kamu

Karena terlibat aku di dalam nafasmu

 

Dari biskota ke biskota kamu memburuku

Kita duduk bersanding melihat kisah hidup yang kuno

Dan perlahan tersirat darah kita

Melihat sekuntum bungan telah mekar

Dari kebebasan yang putus asa

 

Oksidentalisme Sebuah Semangat Perlawanan Timur

Barat yang diwaikili eropa secara arogan mengakui bahwa hanya ada satu kebudayaan maju di dunia ini. Ia eropa menstandarkan sendiri makna kemajuan dan memberikan piagam penghargaannya kepada dirinya sendiri.

Muhammad ghalib (rektor Al-Azhar)

 

Sebuah kenyataan bahwa barat kini secara ekonomi lebih maju dari timur. Dan perihal ini dipandang secara bulat-bulat oleh kebanyakan orang timur untuk seluruhnya berkiblat kepadanya. Melalui paham developmentalism barat mengekspor ideologi yang sepertinya tidak dapat di tolak oleh seluruh negara di dunia. Kemudian negara-negra berkembang mengamini, lalu berjuang dengan disiplin puritan dan sikap licik nomer satu untuk mampu maju secara ekonomi dan teknologi. Sepertinya hal itu adalah sebuah keniscayaan atas sebuah pembangunan manusia yang komperehensif. Berbagai kritik di lontarkan atas agama baru ini (developmentalisme) tetapi tidak ada yang kunjung mampu menghentikan kekuatan paham ini bahkan justru membuatnya memodisfikasi strategi yang lebih jitu lagi.

Sejak munculnya revolusi sains hingga merubah paradigma dunia dalam memandang alam dan segala isinya. Maka berubah pula paradigma-paradigma sosial yang ada. Kemunculan ilmu-ilmu empirik baru dan menangnya filsafat-filsafat positifistik mebuka gerakan dan percepatan lain bagi sejarah dunia ini. Sebut saja copernicus, galileo, newton descartes orang-orang jenius abad pertengahan telah memetakan dunia baru. Bagi kaum materialism terciptanya ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan peluang bagi dirinya untuk melakukan eksplorasi dan efesiensi kegiatan ekonomi. Alat digunakan sebaik mungkin untuk mengakumulasikan kapital sebanyak-banyaknya. Dan sudah menjadi hukumnya perilaku tersebut memerlukan tanah-tanah baru dan sumberdaya-sumberdaya baru yang lebih kaya lagi murah3.

Selanjutnya pandangan-pandangan merkantilisme mendorong penguasa-penguasa untuk melakukan pembiyayaan besar-besaran atas sejumlah pelayaran dan ekspedisi.Di Spanyol Raja dan ratu mendukung secara kuat colombus untuk menemukan dunia baru. Dengan diikuti  kongsi-kongsi dagang melaui pelaut-pelaut eropa dengan motif Gold, Glory & god. Jadi upaya globalisasi di era kolonial diarahkan untuk memenuhi kebutuhan negara-negara yang lebih dahulu maju dengan mengeksploitasi negara atau daerah yang lebih terbelakang.

Globalisasi ekonomi yang telah berakar berabad-abad terus berevolusi. Munculnya tatanan strata sosial baru antara kaum penjajah dan terjajahpun tidak bisa dihindarkan. Bahkan budaya superior dan inferiorpun muncul sebagai konsekuensi logisnya. Universalisasi nilai, ukuran dan ideologi dipaksakan masuk dalam budaya bangsa-bangsa terjajah yang menyebabkan akulturasi yang tidak seimbang. Situasi yang demikian menyebabkan pribumi secara tidak sadar dan berangsur-angsur mulai memberikan legitimasi kepada penjajah untuk kemudian mengakui bahwa dirinya adalah subordinat dari kaum emperialis. Dari situ mulailah “pendiktean” atas tradisi, moral dignity, dan pola pikir bangsa-bangsa terjajah. Yang oleh Gramsci disebut dengan istilah hegemoni.

 

 

 

 

 

Fundamentalis Islam Sebagai Reaksi Atas imperialism.

 

Tidak ada sesuatu yang sempurna, termasuk imperilisme sekaligus hegemoni yang ada di dalamnya. Ketersumbatan kaum terjajah dalam mengakses hak-hak hidup sebagai individu dan sosial menyebabkan beberapa dari mereka berfikir tentang kebebasan. Sedangkan catatan kegemilangan islam memunculkan romantisme sejarah tersendiri bagi umat islam. Romantisme tersebut memberikan energi perlawanan terhadap penjajah yang notabennya orang-orang non-Muslim.

Dalam konteks ini Islam sebagai agama menuntut sebuah pencarian atau legalitas dengan asumsi bahwa setiap aksi,sistem, atau negara harus berdiri diatas konsepsi atau gagasan sebagai landasan dasarnya. Hal ini jelas tidak diijinkan oleh kaum imperialis. Seperti juga negara kapitalis yang berasaskan kebebasan dan negara-negara yang berhaluan sosialis melandaskan atas konsep “keadilan sosial”. Negara islam yang di idami-idamkan, juga harus berdiri diatas legalitas islamnya. Disinilah fundamentalisme islam dalam salah satu makannya berupaya memformulasikan leglitas ini5. Kemudian merealisasikannya di tengah kepungan kepentingan imperialis dan ideologi-ideologi lainnya.

Dari beberapa kalimat paragraf diatas jelas bahwa fundamentalis islam tidaklah identik dengan konservatif, terbelakang dan menentang peradaban modern seluruhnya. Fundamentalis juga tidak bisa dituduh selalu menggunakan cara-cara anarkis dan machievalis dalam pencapaian tujuannnya. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kebanyakan dari doktrin perjuangannya bersandar pada nilai-nilai islam yang Pro dalam pembangunan kesadaran berbangsa, membangun kesadaran berpolitik, melestarikan budaya arab, menyerukan kebersihan dan bahkan beberapa pemikir yang dianggap fundamentalis (seperti Alafghani,Rasyid Ridho, Al-Kawakibi,dll) menulis tentang toleransi dan saling bekerjasama, serta menyerukan persaudraaan dan cinta kasih6. Sehingga fundamentalis islam dalam perspektif umum yang kini di amini, lebih merupakan istilah yang diciptakan barat dalam mendeskriditkan gerakan-gerakan islam yang notabennya berusaha menuntut haknya sendiri. 

 

Oksidentalisme melawan neo-imperialism

 

 Sudah kita fahami bersama bahwa bentuk-bentuk imperialism telah berganti bentuk menjadi neo-imperialism. Soekarno 50 tahun memberikan ungkapan atas hal ini dihadapan negara asia-afrika, bahwa: colonialism has also its modern dress, in form of economic control and actual physical control by a small but alien community within a nation”.7 Imperialis hanya berganti baju, kalau dulu dengan meriam dan pistol kini baju barunya adalah sebuah paham atas pembangunan dan kemajuan. Dengan globalisasi sebagai topengnya untuk menyembunyikan taring-taring kapitalisme.

Dalam terminologi ekonomi Doktrin Gramsci mengatakan bahwa negara-negara terhegemoni akan melahirkan budaya kaum-kaum subordinat. Sedangkan negara kuat selalu menguniversalisasikan nilai-nilai yang dibawanya baik melalui tradisi intelektual ataupun cara-cara kekerasan sekalipun. Kritik model ini tidak hanya gramsci, dalam teori dependensinya Andre Gunder Frank bahwa hubungan antara negara pinggiran dan negara pusat akan menghasilkan pembangunan keterbelakangan atau The Development of Underdevelopment8. Dan tentu diikuti oleh keterbelakangan dimensi lainnya.

Dalam terminologi sosial budaya hegemoni akan memunculkan rendah diri bagi bangsa client bahkan untuk sekadar menengadahkan muka. Selanjutnya kekerdilan itu akan menjangkit pada nalar dan logika yang merunduk-runduk dan berkiblat pada barat. Lupa dengan aksioma-aksioma agamanya, lupa dengan tradisi dan budaya bangsanya. Kekagumannya pada yang baru membuatnya terengah-engah untuk maju dan pada suatu titik dia lupa menengok kebelakang lalu lupa pula tujuan apa yang akan dicapai.

Terkait dengan itu maka perlu dimunculkan sebuah semangat restorasi paradigma. Sebuah semangat yang mampu memetakan diri sebagai keutuhan manusia dan “orang lain” sebagai keutuhan yang lain pula. Semangat yang tidak mencampur adukan nilai-nilai, kultur, budaya, dan metode intelektualitas sampai pada batasan tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Sehingga perlu memunculkan sebuah sikap dan bagi seorang muslim adalah sikap islam terhadap tradisi barat dengan istilahnya Hasan hanafi adalah Oksidentalisme.

Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu upaya menandingi Orientalisme (baik yang clasic ataupun moderat.pen) sebagi kaki tangan imperialis. Kemudian meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. Untuk mengembalikan citra Islam, ia (Oksidentialis) memberikan jalan dengan melakukan reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Selanjutnya dijelaskan bahwa Oksidentalisme adalah materi utama yang tidak tinggal pakai. Sebab ia merupakan hasil penggambaran egoterhadap the other. Bukan dekripsi the other atas dirinya yang kemudian ditranformasikan oleh ego. Ia dihasilkan oleh upaya kreasi ego. Bukan oleh keringat the other. Ia Oksidentalisme ingin menghapuskan eurosentrisme. Menjelaskan bagaimana kesadaran eropha kembali kebatas alaminya yang selama ini menyebarkan melalui media ekonomi dan budaya9.

Oksidentalisme sebagai semangat perlu kita amani walaupun sebagi dasar berpikir tentu memerlukan telaah yang lebih jauh. Dalam menafsirkan reformasi Agama dan reformasi pemikiran untuk kemudian di formulasikan, tentu setiap gerakan islam memiliki penafsiran dan metode sendiri-sendiri. Dan bukanlah Osidentalisme-nya Hasan Hanafi yang dijadikan rujukan atas itu.pen

Oksidentalisme sebagi sebuah semangat mendorong setiap muslim berani untuk duduk sama redah dan berdiri sama tinggi dengan barat. Tidak lagi perasaan minder  muncul ketika berbicara dengan orang barat. Memunculkan keberanian, seberani Hatta ketika berpidato di konfrensi meja bundar, segagah soekarno ketika menghujat keburukan barat beserta varian-variannya. Dan sebaik Said Quthb dalam mencerna pemikirannya. Sehingga Jauh dari keterjebakan reaksi atas suatu aksi dengan Mencemooh konklusi tetapi menerima premis-premisnya. Kejelian seperti ini diperlukan agar  mampu memetakan Al Ana (ego) dan Al akhar (other) dalam wilayah sosial, ekonomi politik dan kebudayyaan kemudian memunculkan semangat

Atturas

Wa

tajdid ( tradisi dan pembaruan)

Pada gilirannya kebanggaan atas tradisi dan keterbukaannya melihat kebutuhan realitas zaman, melahirkan sebuah elaborasi sikap dan ilmu yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Dengan berlandaskan pada nilai-nilai islam yang berketuhanan, berkeadilan dan bersandarkan pada kemaslahatan bersama.

Merunut semangat di atas, dalam melawan neo imperalis dengan kendaraan ekonomi politiknya, maka seorang muslim dalam berekonomi tidak lagi condong pada semangat kapitalistik yang jauh dari keadilan. Karena kesadarannya memberi tahu bahwa kapitalisme tidak akan tercerabut dari tubuh umat islam Selama masyarakat muslim masih terintegrasi dengan kapitalisme global. Dalam berpolitikpun tidak lagi menggunakan cara-cara marchiavelis dengan menghalalkan segala cara. Termasuk Sampai pada melakukan lompatan-lompatan ideology demi manuver politiknya.

 

Neo-Imperalism akan selalu masuk dan bercokol Dalam jiwa-jiwa terjajah yang pragmatis dan kerdil

 

 

Refensi:

§ Hasan Hanafi,1989, Aku bagian dari Fundamentalisme islam

§ Hasan Hasnafi, 1987, Oksidentalisme

§ Thomas khun, revolution sains

§ Arief Budiman, 2000, Teori pembangunan dunia ketiga

§ Soetopo,…….., kritik gramsci atas pembangunan dunia ketiga

§ Mubiyarto, 2005, ekonomi pancasila.

POLITIC

Politik*  Komsat 24 September 2005
Islam adalah suatu fenomena agama dan politik karena pembangunannya seorang nabi, yang juga seorang politikus yang bijaksana ataupun negarawan.
Prof strohman (inscyclopedya brithanica)

Dalam kesempatan ini. Dengan segala keterbatasan, saya akan mencoba menjelaskan seputar politik secara umum dan korelasinya dengan islam.
Dahulu sebelum masehi seorang filsuf besar, aristoteles melihat sebuah fenomena dalam polis (kota) mayarakat yunani ketika itu. Sebuah perilaku kumpulan orang yang mnemiliki kecenderungan mengorganisir diri dan melakukan penataan “kekuasaan” diantara satu dengan yang lainnya. Dari situlah kemudian dia menuliskan sebuah buku masrur yang diberi judul Politics.
Dalam kamus besar filsafat barat disebutkan bahwa politik berasal dari kata politikos yang berarti menyangkut warga negara atau politeik (kewargaan). Disebutkan juga secara terminologi politik berkaitan dengan pemerintahan, pengelolaan kebijakan negara, menyanmgkut perilaku manusia dalam kehidupan berkelompaok. Dari banyak definisi yang saling berhubungan tersebut disebutkan bahwa tujuan akhir politik adalah mencapai Eudoimania ( kesejahteraan bersama). Dan pada perkembangannya politik diartikan sangat luas meliputi sejarah, filsafat, hukum dan ekonomi……….(cheppy)
Poltik berbeda dengan ilmu politik. Politik lebih diartikan pada sisi praktis dan tidak harus terikat dengan metodologi dan kaidah-kaidah ilmiah. Tidak selalu juga diartikan degan partai politik, negara dan kekuasaan. Bahkan mengibarkan bendera negara atau menggunakan bahasa indonesia bisa jadi diakatakan sikap politik. Selanjutnya politik biasa dimaknai pada sisi hubungan anata manusia dan struktur dengan segala ornamentnya yang dimunculkan dari perilaku manusia tersebut. Sedangkan ilmu politik setidaknya diartikan sebagai ilmu dalam makna universal dalam mempelajari kehidupan negara yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.(J Barent) Bahkan ada yang mengartikan ilmu politik merupakan usaha memepertajam pengertian tentang politik itu sendiri.(Cheppy hary cahyo). Tentu dengan menggunakan metode-metode dan kaidah-kaidah ilmiah. Seperti bagaimana terbentuknya negara, asal muasal lembaga negara dan sebagainya.
Dalam diskusi kali ini kita akan lebih menekankan pembicaraan pada seputar poitik bukan ilmu politik.

Sekilas Tentang Paradigma Politik
Meski terminologi politik sendiri datang dari yunani kemudian dipopulerkan oleh para pemikir barat. Namun secara umum islampun memiliki konsep tentang politik.
Tentu muncul sebuah pertanyaan
Apa perbedaan politik islam dan politik barat?
Pada level paradigmatik bila kita mengok sejarah pemikiran barat tentang politik maka kita akan menemukan sebuah perbedaan yang mendasar dalam politik. System politik dibarat dimulai pada abad 16 M dibangun atas dasar ketidak percayaan antara satu kelompok dengan yang lainnya. Speperti anatara rakyat dan penguasa. Pergeseran yang terjadi dalam krangka teoripun tetap saja tidak merubah paradigma suudzon yang ada. Sebut saja  Thomas Hobbess dan Grotius penggagas kemutlakan kekuasaan. Meereka berpendapat  bahwa legitimasi dimiliki mutlak oleh penguasa tanpa memerlukan legitimaasi dari rakyatnya. Karena sadar tidak sadar rakyat membutuhkan sebuah institusi untuk menekan mereka agar tidak kacau karena pada dasarnya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Selanjutnya perdeebatan mengenai system politik terus berlanjut dan penentang dari pendapat yang pertama adalah john lock.
John lock menyerukan bahwa setiap diri dari manusia memiliki hak-hak alamiahnya dan adalah tidak mungkin bila sebuah kekuatan “tanpa kontrol” mampu menjaga hak-hak tersebut. Idenya adlah pada dasarnya kekuasaan menyimpang sehingga perlu di buat sebuah poros kekuatan lain dalam sebuah sistem politik. Selanjutnya ide ini dilanjutkan oleh montesque dengan trias politikannya. Dari sini bisa kita lihat bahwa paradi\gma dari teori yang dibangun adalah azas ketidak percayaan. Antara lock dan hobbess sama-sama menggunakan paradigma tersebut. Hobbess tidak percaya bahwa masyarakat akan teratur bila diberi kebebasan sedangkan lock tidak percaya bila kekuadsaan diberi kebebasan untuk berkuasa.
Lalu pertanyaannya bagai mana dengan islam?
Di dalam islam paradigma yang dibangun adalah perasaan berbaik antara satu muslim dengan lainnya, berbeda dengan homo homini lupus islam mengajarkan bahwa muslim denga satu dengan lainnnya adalah saudara bahkan kecintaan akan saudara sesamanya merupakan bukti keimananyya kepada Allah. Hal tersebut diperkuat juga dengan hadist yang menyebutkan bahwa itsar (mengorbankan kepentingannya demi kepentingfan muslim lainnya) di hargaio sangat tinggi dalam islam. Itsar disebutkan sebagai tingkat tertinggi keimnanan seorang muslim.
Sedangkan dalam kondisi dimana tatanan yang berjalan dengan baik, rakyat wajib mengikuti perintah pemimpinnya.
“ Hai Orang-orang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul9Nya)  dan Ulil Amri diantara kamu” (annisa 59).
Dan hal ini dikuatkan juga dalam hadist rasullullah
“ Kamu harus selalu dan mendengar dan taat kepada penguasa baik dalam hal yang sulit, menyenangkan, dan menjemukan. Walaupun ia tidak memeperdulikanmu”
Dalam hadist lain diceritakan ketika salamah menaynakan poerihal pemimpin yang tidak memenuhi hak rakyatnya maka rasullullah bersabda Dengar dan taatilah mereka! Sesungguhnya sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggung jawaban…….
Sehingga secara mendasr pada kondisi ideal rakyat harus berprasangka baik pada penguasanya. Sedangkan kesalahan yang dilakukan penguasa akan dipertanggung jawabkan kepada Allah.
Sedangkan dalam kondisi yang tidak ideal paska khulafaar rasyidin diawali peristiwa terbunuhnya usman mulailah muncul banyak teori dan perdebatan mengenai pola hubungan terkait dengan level ketaatan, legitimasi dan hubungan antara penguasa dengan rakyatnya. Dan semoga akan bisa dibahas pada kesempatan lain. 

Politik Dan Dakwah Islam
Dalam islam istilah politik sering disamakan dengan istilah arab Siyasah yang berarti mengelola. Dan dalam banyak kata biyasanya kata siyasah akan digandeng dengan istilah syar’iyah. Sehingga terbentuklah istilah siyasah sr’iyah, sebuah istilah yang memiliki arti dimana politik dimaknai sebagai pengelolaan dan sar’iyah sebagai kata yang memfremkan model pengelolaan seperti apa yanfg dimaksud. Dan dalam hal ini pengelolaan yang dimaksud adalah sesuai dengan ajaran islam.
Mungkinkah politik bergandenga dengan agama islam?
Sebuah pertanyaan ini sering kali diajukan oleh para pengusung paham sekuleris dan liberal. Sesungguhnya politik dan islam adalah bukan sesuatu yang bisa dipisahkan.
Islam sebagai agama yang syamil memuat segala hal termasuk politik dan ideologi politik. Hal tersebut dapat kita  amati dari sejarah Rasullulah dalam melakukan pengelolaan masyarakat di mekah dan madhinah.
Sudah tidak asing istilah masyarakat Madhani (madinah) atau sering disamakan dengan Civil Society adalah model masyarakat ideal yang dijadikan rujukan sepanjang masa. Sebuah model masyarakat dimana system egaliterian dan persamaan hak dijunjung tinggi jauh-jauh hari sebelum eropha mengenal nilai-nilai itu. Sebuah masyarakat dimana orang-orang yang berbeda ideologi dan agama bisa berkumpul dengan baik dalam suatu wilayah yang disebut madinah. Dengan piagam madhinah sebagai kesepakatan bersama dan Nabi sebagai pemimpin pemerintahan.Dari sini dapat dimaknai bahwa pagi-pagi sebelum politik didefinisikan secara “canggih” islam sudah mempraktekannya. Bahkan kutipan pernyataan Prof strohman diatas salah seorang orientaslis, menegaskan perihal ini.
Dari sedikit uraian diatas sebuah makan poltitik dapat diartiakan sebagai cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk mewujutkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia. Dan dalam konteks ini nilai yang menjadi takaran kebenaran adalah islam. Dalam salah salah suatu buku Syekh Hasan Al Banna menyatakan: wahai kaum kami, sesungguhnya ketika kami menyeru kalian, ada Al Quran ditangan kanan kami dan Sunnah ditangan kiri kami, serta jejak kaum salaf yang soleh dari putra-putra terbaik umat ini adalah panutan kami. Kami menyeru kalian kepada islam, kepada ajaran-ajarannya dan kepada hukum-hukumnya, jika seruan itu kalian anggap sebagai politik, maka itulah politik kami.dan jika orang yang menyeru kalian kepada itru semua kaliankatakan sebagai politikus.
Sehingga bila dalam sebuah tatanan masyarakat tidak sesuai dengan nilai keadilan islam, kemaslahaqtan dan beberapa nilai agung islam lainnya. Maka menjadi kewajiban seorang muslim untuk bertindak secara politis dalam rangka melakukan perbaikan-perbaikan terhadap masalah yang ada. Disinilah letak kaitan politik sebagi alat (wasilah) dan dakwah islam sebagai tujuannya (wailah wa al-hadaf). Dan dalam konteks ini tidaklah dakwah itu hanya diartikan sebagai mengajak orang untuk sholat, tahlilan atau ngaji. Melainkan mengajak manusia untuk menjadi mahkluk yang paripurna secara akidah dan bermanfaat secara sosial. Dan hal ini tercermin dari sejauh mana makna-makna sosiologis (pembebasan masyarakat dari berbagai thoghut, perbaikan negara, perbaikan masyarakat,  ikut serta dalam partisipasi politik praktis secara beretika, dll) dapat diberikan oleh seorang muslim.
Ada beberapa nilai dasar akidah islam yang menyebabkan politik menjadi bagian dari islam.
1.    Aqidah Islam adalah aqidah yang menyeluruh ( syumul ) Aqidah Islam yang menyeluruh membawa pengertian bagi semua aspek. Baik daripada aspek rohaniah mahupun jasmaniah. Gabungan daripada kedua-dua aspek ini memangkinkan kepada keutuhan politik dalam agama.
2.    Aqidah Islam adalah aqidah yang kekal. Aqidah Islam berteraskan kepada asas-asas yang kekal . Ini berlainan sama sekali dengan sesetengah agama ataupun ideologi yang berdasarkan kepada materialisme semata-mata yang sementara seperti kebangsaan nasionalisme, ide pemikiran.
3.     Aqidah Islam adalah aqidah yang sesuai sepanjang masa. Sehingga aqidah sebagai politik akan menjadi landasan yang mapan bagi politik yang terus berubah.
4.    Aqidah Islam penyelamat ummat Aqidah Islam dapat menyelamatkan manusia daripada segala macam bentuk penindasan termasuklah penindasan politik. Ini adalah kerana dalam Islam itu sendiri, semua manusia adalah sama tidak mengira keturunan ataupun darjat. Sehingga Adalah menjadi kewajipan untuk menegur dan memperbetulkan penyelewengan dan penyalahgunaan kuasa yang menyebabkan penindasan dan kezaliman ke atas masyarakat dan rakyat.
5.    Aqidah Islam penyusun nilai hidup Dalam aqidah Islam, penyusunan dan pengaturan nilai-nilai hidup berlaku.

Etika Politik Islam
Di dalam islam,  politik diatur sesuai dengan etika yang berdasarkan syariat. sehingga struktur yang terbangun bukan hanya didasarkan kepentingan pragmatis entah kekuasaan-ansich, harta dan sebagainya. Dalam politik islam tidak hanya berpikir “bagaimana dapat apa”, tetapi diantara bagaimana dan apa ada nilai responsibelity. Nilai tanggung jawab dan amanah ketika seorang muslim menggunakan cara dalam berpolitik dan mendapatkan sesuatu dari hasil politisasinya itu.
Sehingga dalam banyak kesempatan islam mengatur berbagai hal berkenaan dengan politik. Salah satunya adalah apa yang dijabarkan ibnu taymiyah dalam kitabnya As-Siyasyah Sar’iyah fi islahir-Ra’iwar-Rai’yah. Disitu disebutkan bagaimana islam mengatur hak-hak penguasa, hak-hak rakyat, Metodologi dalam menentukan kelayakan seorang pemimpin, perilaku penguasa atas harta rakyat dan sebagainya. Dengan aturan yang demikian luhurlah, sehingga politik dalam islam terhindar dari cara-cara menghalalkan segala cara ala Marchiaveli. Dan pada akhirnya system politik islam yang terbangun dapat sesuai syariat islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, anti penghambaan, musyawarah, Komitmen terhadap moralitas islam dan terwujudnya kemaslahatan bersama.

Mukit Hewndrayatno // Makalah Politik Islam Daurah Marhalah I

PERKENALAN BLOG

Perkenalkan,
saya coba ngisis-ngisi blog ini ulisan-tulisan yang pernah saya bikin. Temanya tentang
> politik dan filsafat

> Ekonomi & teknik
> Curhat
> sedikit refleksi
> dan mungkin sajak-sajak-ku

Selamat menikmati