Barat yang
diwaikili eropa secara arogan mengakui bahwa hanya ada satu kebudayaan maju di
dunia ini. Ia eropa menstandarkan sendiri makna kemajuan dan memberikan piagam
penghargaannya kepada dirinya sendiri.
Muhammad ghalib (rektor Al-Azhar)
Sebuah
kenyataan bahwa barat kini secara ekonomi lebih maju dari timur. Dan perihal
ini dipandang secara bulat-bulat oleh kebanyakan orang timur untuk seluruhnya
berkiblat kepadanya. Melalui paham developmentalism barat mengekspor ideologi
yang sepertinya tidak dapat di tolak oleh seluruh negara di dunia. Kemudian
negara-negra berkembang mengamini, lalu berjuang dengan disiplin puritan dan
sikap licik nomer satu untuk mampu maju secara ekonomi dan teknologi.
Sepertinya hal itu adalah sebuah keniscayaan atas sebuah pembangunan manusia
yang komperehensif. Berbagai kritik di lontarkan atas agama baru ini
(developmentalisme) tetapi tidak ada yang kunjung mampu menghentikan kekuatan
paham ini bahkan justru membuatnya memodisfikasi strategi yang lebih jitu lagi.
Sejak
munculnya revolusi sains hingga merubah paradigma dunia dalam memandang alam
dan segala isinya. Maka berubah pula paradigma-paradigma sosial yang ada.
Kemunculan ilmu-ilmu empirik baru dan menangnya filsafat-filsafat positifistik
mebuka gerakan dan percepatan lain bagi sejarah dunia ini. Sebut saja
copernicus, galileo, newton descartes orang-orang jenius abad pertengahan telah
memetakan dunia baru. Bagi kaum materialism terciptanya ilmu pengetahuan dan
teknologi menjadikan peluang bagi dirinya untuk melakukan eksplorasi dan
efesiensi kegiatan ekonomi. Alat digunakan sebaik mungkin untuk
mengakumulasikan kapital sebanyak-banyaknya. Dan sudah menjadi hukumnya
perilaku tersebut memerlukan tanah-tanah baru dan sumberdaya-sumberdaya baru yang
lebih kaya lagi murah3.
Selanjutnya pandangan-pandangan
merkantilisme mendorong penguasa-penguasa untuk melakukan pembiyayaan
besar-besaran atas sejumlah pelayaran dan ekspedisi.Di Spanyol Raja dan ratu
mendukung secara kuat colombus untuk menemukan dunia baru. Dengan diikuti kongsi-kongsi dagang melaui pelaut-pelaut eropa
dengan motif Gold, Glory & god. Jadi
upaya globalisasi di era kolonial diarahkan untuk memenuhi kebutuhan
negara-negara yang lebih dahulu maju dengan mengeksploitasi negara atau daerah
yang lebih terbelakang.
Globalisasi
ekonomi yang telah berakar berabad-abad terus berevolusi. Munculnya tatanan
strata sosial baru antara kaum penjajah dan terjajahpun tidak bisa dihindarkan.
Bahkan budaya superior dan inferiorpun muncul sebagai konsekuensi logisnya.
Universalisasi nilai, ukuran dan ideologi dipaksakan masuk dalam budaya
bangsa-bangsa terjajah yang menyebabkan akulturasi yang tidak seimbang. Situasi
yang demikian menyebabkan pribumi secara tidak sadar dan berangsur-angsur mulai
memberikan legitimasi kepada penjajah untuk kemudian mengakui bahwa dirinya adalah
subordinat dari kaum emperialis. Dari situ mulailah “pendiktean” atas tradisi,
moral dignity, dan pola pikir bangsa-bangsa terjajah. Yang oleh Gramsci disebut
dengan istilah hegemoni.
Fundamentalis Islam Sebagai Reaksi Atas
imperialism.
Tidak ada
sesuatu yang sempurna, termasuk imperilisme sekaligus hegemoni yang ada di
dalamnya. Ketersumbatan kaum terjajah dalam mengakses hak-hak hidup sebagai
individu dan sosial menyebabkan beberapa dari mereka berfikir tentang
kebebasan. Sedangkan catatan kegemilangan islam memunculkan romantisme sejarah
tersendiri bagi umat islam. Romantisme tersebut memberikan energi perlawanan terhadap
penjajah yang notabennya orang-orang non-Muslim.
Dalam konteks
ini Islam sebagai agama menuntut sebuah pencarian atau legalitas dengan asumsi
bahwa setiap aksi,sistem, atau negara harus berdiri diatas konsepsi atau
gagasan sebagai landasan dasarnya. Hal ini jelas tidak diijinkan oleh kaum imperialis.
Seperti juga negara kapitalis yang berasaskan kebebasan dan negara-negara yang
berhaluan sosialis melandaskan atas konsep “keadilan sosial”. Negara islam yang
di idami-idamkan, juga harus berdiri
diatas legalitas islamnya. Disinilah fundamentalisme islam dalam salah satu
makannya berupaya memformulasikan leglitas ini5. Kemudian merealisasikannya
di tengah kepungan kepentingan imperialis dan ideologi-ideologi lainnya.
Dari beberapa kalimat paragraf
diatas jelas bahwa fundamentalis islam tidaklah identik dengan konservatif,
terbelakang dan menentang peradaban modern seluruhnya. Fundamentalis juga tidak
bisa dituduh selalu menggunakan cara-cara anarkis dan machievalis dalam
pencapaian tujuannnya. Hal tersebut dapat dibuktikan bahwa kebanyakan dari
doktrin perjuangannya bersandar pada nilai-nilai islam yang Pro dalam
pembangunan kesadaran berbangsa, membangun kesadaran berpolitik, melestarikan
budaya arab, menyerukan kebersihan dan bahkan beberapa pemikir yang dianggap fundamentalis
(seperti Alafghani,Rasyid Ridho, Al-Kawakibi,dll) menulis tentang toleransi dan
saling bekerjasama, serta menyerukan persaudraaan dan cinta kasih6.
Sehingga fundamentalis islam dalam perspektif umum yang kini di amini, lebih
merupakan istilah yang diciptakan barat dalam mendeskriditkan gerakan-gerakan
islam yang notabennya berusaha menuntut haknya sendiri.
Oksidentalisme melawan neo-imperialism
Sudah
kita fahami bersama bahwa bentuk-bentuk imperialism telah berganti bentuk
menjadi neo-imperialism. Soekarno 50 tahun memberikan ungkapan atas hal ini
dihadapan negara asia-afrika, bahwa: colonialism
has also its modern dress, in form of economic control and actual physical
control by a small but alien community within a nation”.7 Imperialis
hanya berganti baju, kalau dulu dengan meriam dan pistol kini baju barunya
adalah sebuah paham atas pembangunan dan kemajuan. Dengan globalisasi sebagai
topengnya untuk menyembunyikan taring-taring kapitalisme.
Dalam terminologi ekonomi Doktrin
Gramsci mengatakan bahwa negara-negara terhegemoni akan melahirkan budaya
kaum-kaum subordinat. Sedangkan negara kuat selalu menguniversalisasikan
nilai-nilai yang dibawanya baik melalui tradisi intelektual ataupun cara-cara
kekerasan sekalipun. Kritik model ini tidak hanya gramsci, dalam teori
dependensinya Andre Gunder Frank bahwa hubungan antara negara pinggiran dan
negara pusat akan menghasilkan pembangunan keterbelakangan atau The Development of Underdevelopment8.
Dan tentu diikuti oleh keterbelakangan dimensi lainnya.
Dalam
terminologi sosial budaya hegemoni akan memunculkan rendah diri bagi bangsa
client bahkan untuk sekadar menengadahkan muka. Selanjutnya kekerdilan itu akan
menjangkit pada nalar dan logika yang merunduk-runduk dan berkiblat pada barat.
Lupa dengan aksioma-aksioma agamanya, lupa dengan tradisi dan budaya bangsanya.
Kekagumannya pada yang baru membuatnya terengah-engah untuk maju dan pada suatu
titik dia lupa menengok kebelakang lalu lupa pula tujuan apa yang akan dicapai.
Terkait dengan itu maka perlu
dimunculkan sebuah semangat restorasi paradigma. Sebuah semangat yang mampu
memetakan diri sebagai keutuhan manusia
dan “orang lain” sebagai keutuhan yang lain pula. Semangat yang tidak mencampur
adukan nilai-nilai, kultur, budaya, dan metode intelektualitas sampai pada
batasan tidak mampu mengenali dirinya sendiri. Sehingga perlu memunculkan
sebuah sikap dan bagi seorang muslim adalah sikap islam terhadap tradisi barat
dengan istilahnya Hasan hanafi adalah Oksidentalisme.
Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu
upaya menandingi Orientalisme (baik yang clasic ataupun moderat.pen) sebagi
kaki tangan imperialis. Kemudian meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. Untuk
mengembalikan citra Islam, ia (Oksidentialis) memberikan jalan dengan melakukan
reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Selanjutnya dijelaskan
bahwa Oksidentalisme adalah materi utama yang tidak tinggal pakai. Sebab
ia merupakan hasil penggambaran egoterhadap the other. Bukan dekripsi the other
atas dirinya yang kemudian ditranformasikan oleh ego. Ia dihasilkan oleh upaya
kreasi ego. Bukan oleh keringat the other. Ia Oksidentalisme ingin menghapuskan eurosentrisme. Menjelaskan
bagaimana kesadaran eropha kembali kebatas alaminya yang selama ini menyebarkan melalui media ekonomi dan budaya9.
Oksidentalisme
sebagai semangat perlu kita amani walaupun sebagi dasar berpikir tentu
memerlukan telaah yang lebih jauh. Dalam menafsirkan reformasi Agama dan
reformasi pemikiran untuk kemudian di formulasikan, tentu setiap gerakan islam
memiliki penafsiran dan metode sendiri-sendiri. Dan bukanlah Osidentalisme-nya
Hasan Hanafi yang dijadikan rujukan atas itu.pen
Oksidentalisme
sebagi sebuah semangat mendorong setiap muslim berani untuk duduk sama redah dan
berdiri sama tinggi dengan barat. Tidak lagi perasaan minder muncul ketika berbicara dengan orang barat.
Memunculkan keberanian, seberani Hatta ketika berpidato di konfrensi meja bundar,
segagah soekarno ketika menghujat keburukan barat beserta varian-variannya. Dan
sebaik Said Quthb dalam mencerna pemikirannya. Sehingga Jauh dari keterjebakan
reaksi atas suatu aksi dengan Mencemooh konklusi tetapi menerima
premis-premisnya. Kejelian seperti ini diperlukan agar mampu memetakan Al Ana (ego) dan Al akhar
(other) dalam wilayah sosial, ekonomi politik dan kebudayyaan kemudian memunculkan
semangat
Atturas
Wa
tajdid ( tradisi dan pembaruan)
Pada
gilirannya kebanggaan atas tradisi dan keterbukaannya melihat kebutuhan
realitas zaman, melahirkan sebuah elaborasi sikap dan ilmu yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya. Dengan berlandaskan pada nilai-nilai islam yang
berketuhanan, berkeadilan dan bersandarkan pada kemaslahatan bersama.
Merunut
semangat di atas, dalam melawan neo imperalis dengan kendaraan ekonomi
politiknya, maka seorang muslim dalam berekonomi tidak lagi condong pada
semangat kapitalistik yang jauh dari keadilan. Karena kesadarannya memberi tahu
bahwa kapitalisme tidak akan tercerabut dari tubuh umat islam Selama masyarakat muslim masih terintegrasi dengan
kapitalisme global. Dalam berpolitikpun tidak lagi menggunakan cara-cara
marchiavelis dengan menghalalkan segala cara. Termasuk Sampai pada melakukan
lompatan-lompatan ideology demi manuver politiknya.
Neo-Imperalism akan selalu masuk dan bercokol Dalam jiwa-jiwa terjajah
yang pragmatis dan kerdil
Refensi:
§ Hasan Hanafi,1989, Aku bagian dari
Fundamentalisme islam
§ Hasan Hasnafi, 1987, Oksidentalisme
§ Thomas khun, revolution sains
§ Arief Budiman, 2000, Teori pembangunan dunia
ketiga
§ Soetopo,…….., kritik gramsci atas pembangunan
dunia ketiga
§ Mubiyarto, 2005, ekonomi pancasila.